PENYEBAB KARYAWAN BERHENTI

Karyawan tidak akan meninggalkan perusahaan semudah seperti mendorong pintu. Pasti ada alasan yang sering kali tidak dapat diketahui, karena mereka jarang mau berterus terang dan manajemen juga tidak serius atau bahkan tidak peduli dalam menggali penyebabnya melalui interview sehingga terjadi miss comunication di dlm perusahaan dan menjadi penyebab karyawan berhenti.

Selama 16 tahun saya bekerja sebagai vice president di sebuah perusahaan dengan belasan ribu karyawan, saya sering mendengar banyak karyawan berhenti dan mengundurkan diri dan menyampaikan ketidakpuasan mereka secara emosional.

Harus disadari sedini mungkin bahwa turnover karyawan yang tinggi, terutama di level manajerial secara lambat tetapi pasti, akan menyebabkan perusahaan mengalami kemunduran kinerja, terutama ditinjau dari tingkat pertumbuhan (growth) yang diukur dari omzet penjualan, operating profit dan net-worth (kekayaan bersih para pemegang saham/investor). Manajemen juga banyak yang tidak peduli, berapa sebenarnya kerugian akibat turnover karyawan yang tinggi ini diukur dari biaya perekrutan sampai dengan pembinaan, pemberdayaan mereka dan potensi serta skill mereka dalam menghasilkan benefit/manfaat bagi perusahaan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa memang ada karyawan yang berhenti semata-mata hanya mengejar gaji yang lebih tinggi. Namun, mayoritas dari mereka, sebenarnya menginginkan adanya keseimbangan antara tiga faktor yakni:

Kecocokan dengan pekerjaan ditinjau dari pendidikan formal, minat, pengalaman, kompensasi, dan faktor-faktor lain.

Besarnya gaji dan fringe benefits (tunjangan-tunjangan kesejahteraan) serta manfaat lain (karier, training & management development, dan lain-lain).

Hubungan antarmanusia baik secara vertikal maupun horizontal (perlakuan atasan dan hubungan dengan anak buah serta kolega).

Walaupun gaji tinggi, hubungan antarmanusia juga baik, bila tidak mencintai pekerjaannya akan menyebabkan karyawan akan selalu berusaha mencari pekerjaan di tempat lain (terjadi mismatch antara pekerjaan dan karyawan). Sebaliknya, seorang karyawan mencintai pekerjaannya, gaji tidak ada masalah, tetapi bila diperlakukan tidak dengan respek sebagai manusia oleh atasannya, dia akan berhenti juga.

Memang sulit menciptakan kondisi perusahaan yang euforia, di mana ada keseimbangan dari ketiga faktor tersebut sehingga dapat mengikat para karyawan apa pun pekerjaan dan tingkat jabatannya untuk selalu loyal kepada perusahaan, tetapi manajemen harus terus berupaya untuk menciptakan keseimbangan tersebut.

Di luar alasan keseimbangan antara ketiga faktor di atas, secara informal (di luar exit interview) ada sembilan alasan mengapa karyawan berhenti:

# Perlakuan yang tidak manusiawi dari atasan baik langsung maupun tidak langsung (being treated with disrespect). Secara piskologis merasa tertekan karena cenderung disalahkan, dibentak, dibodoh-bodohkan, dimaki dengan kata-kata, kasar, dikatakan makan gaji buta, dan lain-lain.

# Merasa dieksploitasi karena jam kerja yang terlalu panjang (overwork) dengan mengabaikan peraturan ketenagakerjaan yang berlaku, sehinggan merasa stres. Sebagai akibatnya kehidupan sosial baik dengan kerabat, tetangga dan terlebih-lebih dengan keluarga sendiri terabaikan (worklife imbalance).

# Pisah keluarga dalam jangka waktu tidak terbatas dengan perubahan kompensasi yang tidak memadai. Ekses negatifnya adalah mendorong pasangan suami-istri untuk bercerai, terjadi perselingkuhan, dan lain-lain.

# Perusahaan semena-mena memberlakukan peraturan kompensasi-pesangon dan uang penghargaan-yang menyimpang dari perhitungan normatif yang diatur oleh UU No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan juga tentang upah lembur yang diberikan (doing more with less reward).

# Citra perusahaan di masyarakat tidak baik, yang dapat dibuktikan oleh sering terjadi pengunduran diri para calon karyawan yang datang untuk di-interview begitu tahu perusahaan apa yang memanggilnya.

# Akibat dari butir (2), (3) dan (4) di atas maka karyawan merasa di-devalued di mana gaji yang diterima tidak sepadan dengan pengorbanan yang dituntut.

# Terlalu sering dan lamanya rapat-rapat yang dilaksanakan sehingga timbul kejenuhan yang luar biasa (tiada hari tanpa rapat, terutama bagi karyawan yang menduduki posisi manajerial).

# Adanya perbedaan gaji antara karyawan yang sudah lama bekerja dan karyawan baru (gaji lebih tinggi, karena mengikuti pasar tenaga kerja) seta adanya perbedaan fasilitas seperti kendaraan operasional (terjadi inequality of pay and fringe benefits for similar position).

# Perusahaan di mata karyawan mulai menunjukkan kinerja yang menurun yang berpotensi untuk secara bertahap melakukan PHK sehingga timbul keresahan yang menyangkut kelangsungan hubungan kerja yang sewaktu-waktu dapat diterminasi.

Manajemen terutama petinggi HRD harus segera mengatasi kesembilan penyebab karyawan berhenti . Apabila kondisi tersebut diatas dibiarkan, maka pameo yang menyatakan ‘chicken stay, eagle fly’ akan menjadi kenyataan. Akibatnya, yang tertinggal di perusahaan hanya SDM yang tidak berkualitas, yang produktivitasnya rendah, yang burndout, dan yang tidak bisa terbang tinggi.

Oleh : P. Adriyanto
Komisaris PT Sinergi Cahaya Kemuliaan

sumber: adityokurniawan.wordpress.com/2009/05/28/9-penyebab-karyawan-berhenti/

tags:

0 komentar:

Poskan Komentar